SKRIPSI FANDY TENTANG JARINGAN WIRELESS DISTRIBUTION SYSTEM
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Keberadaan suatu sistem jaringan lokal nirkabel atau WLAN (Wireless Local Area Network) sangat membantu manusia yang kini tingkat
mobilitasnya semakin tinggi di dalam kemudahan untuk melakukan koneksi terhadap
internet maupun pertukaran data.
Dahulu untuk melakukan koneksi ke internet
kebanyakan orang menggunakan kabel, tetapi sekarang ini untuk koneksi ke
internet sudah bisa menggunakan wireless.
Dibandingkan dengan menggunakan media kabel,
wireless banyak sekali keuntungan diantaranya user bisa melakukan koneksi internet kapan saja dan dimana saja
asal masih berada dalam ruang lingkup area, selain itu dalam segi biaya
pembangunan, wireless jauh lebih
murah bila dibandingkan dengan kabel.
WLAN bekerja dengan menggunakan gelombang radio. Yang
mana hal ini dilakukan oleh Access Point
(AP) yang mengatur komunikasi pada setiap wireless station pada areal cakupan.
Station juga saling berkomunikasi satu dengan lainnya melalui AP, jadi proses komunikasi antar station
dapat disembunyikan antara satu dengan lainnya.
Dalam hal ini AP berfungsi sebagai relay.
diantara AP dihubungkan melalui cara pengkabelan, jika cakupan wilayahnya masih
di dalam satu lingkungan tentu hal ini tidak menjadi masalah, akan tetapi
bagaimana jika cakupan wilayah yang sudah sedemikian luas, hal inilah yang akan
menyulitkan di kompleks Kantor Bupati Yalimo di Kabuaten Yalimo Provinsi Papua,
jika masih menggunakan teknik pengkabelan di dalam menghubungkan AP dan juga
berdampak terhadap pembiayaan, hal ini dikarenakan Kantor Bupati Yalimo terdiri
dari tiga lantai. Untuk memperluas jangkauan sinyal radio yang dihasilkan AP sampai
ke Kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah sekitar Kantor Bupati Yalimo tanpa lagi
menggunakan kabel, maka dibutuhkan sebuah sistem yang mampu mendistribusikan
antara sinyal yang dipancarkan oleh satu AP
dengan AP lainnya. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu teknik yaitu Wireless Distribution System (WDS). WDS dapat diterapkan diberbagai
instansi maupun perusahaan di negara-negara maju untuk mengoneksikan antara
satu infrastructure jaringan dengan infrastructure jaringan lainnya yang
jaraknya berjauhan dan tidak disarankan jika jaringan tersebut menggunakan
kabel untuk mengoneksikan jaringannya.
Berdasarkan
observasi penelitian masalah yang terjadi di Kantor Bupati Yalimo antara lain,(1) Switch jaringan yang ada di Kantor
Bupati Yalimo hanya berjumlah 5 port
dan keseluruhan port sudah terisi penuh,(2)
Tidak semua komputer di Kantor Bupati Yalimo terkoneksi dengan jaringan
komputer karena kurangnya port switch
yang tersedia.,(3) Proses pertukaran data di Kantor Bupati Yalimo masih dengan
cara manual sehingga memerlukan waktu yang lebih lama.(4) Belusm diterapkannya
jaringan wireless di Kantor Bupati Yalimo
sehingga setiap komputer yang terkoneksi jaringan harus menggunakan kabel jika
ingin terhubung ke jaringan.(5) Luasnya lokasi sehingga tidak memungkinkan
untuk perluasan jaringan kabel.
2.1. Rumusan
Masalah
a.
Jaringan
internet di Kantor Bupati Yalimo masih keterbatasan untuk koneksi jaringan ke
beberapa komputer yang lain.
b.
Jaringan
internet di Kantor Bupati Yalimo masih menggunakan kabel yang tidak efisien
1.2.
Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang akan dibahasa
dalam penelitian ini adalah bagaimana membangun jaringan wireless dengan menggunakan Access
Point sebagai Hotspot. Serta
bagaimana mengatasi pelemahan sinyal dalam jaringan wireless.
1.2 Tujuan
Penelitian
a.
Mengetahui cara mengatasi keterbatasan koneksi jaringan komputer karena kurangnya port switch yang tersedia di Kantor Bupati Yalimo.
b.
Mengetahui
cara menerapkan jaringan wireless di Kantor Bupati Yalimo sehingga setiap komputer
dapat terkoneksi dengan baik dan memungkinkan untuk perluasan jaringan.
1.3
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan adalah
:
a.
Mengetahui konsep jaringan Wireless serta
konfigurasinya.
b.
Mengetahui kelebihan dan kekurangan menggunakan topologi Wireless Distribution System (WDS).
1.4 Sistematika
Penulisan
Mendapat gambaran
yang lebih luas, dan menyeluruh tentang isi
proposal maka di muat ke dalam III bab yang urutannya dapat di lihat pada
sistematika penulisan.
BAB I: PENDAHULUAN
Bab
ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika
penulisan.
BAB
II: TINJAUAN PUSTAKA
Bab
ini berisi uraian beberapa landasan teori pengertia jaringan komputer, pengertian Local Area Network, Jaringan TCP/IP, Wireless Network,
Wireless Distribution System (WDS)
BAB III :
METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan
tentang pembahasan metode penelitian yang berkaitan perancangan dan konfigurasi jaringan wireless,dengan konsep wireless distribution system (WDS) di Kantor Bupati Yalimo.
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan
dibahas tentang hasil penelitian dan hasil pengujian yang dilakukan terhadap
jaringan.
BAB V : PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran-saran.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Jaringan
Komputer
Sebuah jaringan
terdiri dari dua atau lebih komputer yang saling berhubungan antara satu dengan
yang lain, dan saling berbagi informasi. Konsep jaringan komputer lahir pada
tahun 1940-an di Amerika, dari group riset Harvard
University yang dipimpin oleh
Profesor H. Aiken. Pada mulanya proyek tersebut hanyalah ingin memanfaatkan
sebuah perangkat komputer yang harus dipakai bersama. Untuk mengerjakan
beberapa proses tanpa banyak membuang waktu kosong maka dibuatlah proses
beruntun (Batch Processing), sehingga
beberapa program bisa di jalankan dalam sebuah komputer dengan kaidah antrian.
Ada beberapa jenis jaringan, yaitu :
1.
Local Area Network (LAN)
LAN adalah jaringan yang dibatasi oleh
area yang relatif kecil, umumnya dibatasi oleh area lingkungan.
2.
Metropolitan Area Network (MAN)
MAN biasanya meliputi area yang lebih
besar dari LAN, misalnya antar
wilayah dalam satu provinsi yang menggabungkan jaringan LAN.
3.
Wide Area Network (WAN)
WAN
adalah jaringan yang lingkupnya biasanya sudah menggunakan sarana satelit
ataupun kabel bawah laut.
2.2.
Pengenalan Sistem Operasi
Istilah
sistem operasi sering ditujukan kepada semua software yang masuk dalam satu
paket dengan sistem komputer sebelum aplikasi-aplikasi software terinstall. Dalam
Ilmu komputer, sistem operasi atau dalam bahasa Inggris: operating system atau
OS adalah perangkat lunak sistem yang
bertugas untuk melakukan kontrol dan manajemen perangkat keras serta
operasi-operasi dasar sistem, termasuk menjalankan software aplikasi seperti program-program pengolah kata dan browser web. Secara umum, sistem operasi
adalah software pada lapisan pertama yang ditaruh pada memori komputer
pada saat komputer dinyalakan. Sedangkan software-software lainnya
dijalankan setelah sistem operasi berjalan, dan sistem operasi akan melakukan
layanan inti umum untuk software-software itu. Layanan inti umum
tersebut seperti akses ke disk, manajemen memori, scheduling task, dan antar-muka user. Sehingga masing-masing software tidak perlu lagi melakukan
tugas-tugas inti umum tersebut, karena dapat dilayani dan dilakukan oleh sistem
operasi.
2.3.
JARINGAN NIRKABEL
Perbedaan WPAN dan WLAN ,Wireless Local Area
Networks (WLANs). Teknologi WLAN membolehkan pengguna untuk
membangun jaringan nirkabel dalam
suatu area yang sifatnya lokal (contohnya dalam lingkungan gedung kantor,
gedung kampus atau pada area publik seperti bandara atau kafe). WLAN dapat digunakan pada kantor
sementara atau yang mana instalasi kabel permanen tidak diperbolehkan. Atau WLAN terkadang dibangun sebagai suplemen
bagi LAN yang sudah ada, sehingga
pengguna dapat bekerja pada berbagai lokasi yang berbeda dalam lingkungan
gedung.
Dalam infrastruktur WLAN, stasiun wireless (peranti dengan network
card radio atau eksternal modem) terhubung ke access point nirkabel yang berfungsi sebagai bridge antara stasiun-stasiun dan network backbone.Pada tahun 1997,
IEEE meng-approve standar 802.11 untuk WLAN, yang mana menspesifikasikan
suatu data transfer rate 1 sampai 2 megabits
per second (Mbps). Di bawah 802.11b, yang mana menjadi standar baru yang
dominan saat ini, data ditransfer pada kecepatan maksimum 11 Mbps melalui
frekuensi 2.4 gigahertz (GHz).
Standar yang lebih baru lainnya adalah 802.11a, yang mana menspesifikasikan
data transfer pada kecepatan maksimum 54 Mbps melalui frekuensi 5 GHz.
2.4. Wireless Personal Area
Networks (WPANs)
Teknologi WPAN membolehkan pengguna untuk membangun suatu jaringan nirkabel (ad hoc) bagi peranti sederhana, seperti PDA, telepon seluler atau laptop. Ini bisa digunakan dalam ruang operasi personal (personal operating space atau POS). Sebuah POS adalah suatu ruang yang ada disekitar orang, dan bisa mencapai jarak sekitar 10 meter. perbedaan WPAN dan WLAN
Teknologi WPAN membolehkan pengguna untuk membangun suatu jaringan nirkabel (ad hoc) bagi peranti sederhana, seperti PDA, telepon seluler atau laptop. Ini bisa digunakan dalam ruang operasi personal (personal operating space atau POS). Sebuah POS adalah suatu ruang yang ada disekitar orang, dan bisa mencapai jarak sekitar 10 meter. perbedaan WPAN dan WLAN
a. Wireless PAN (WPAN)
Wireless Personal Area Network (WPAN) adalah jaringan wireless dengan jangkauan area yang kecil. Contohnya Bluetooth, Infrared, dan ZigBee.
Wireless Personal Area Network (WPAN) adalah jaringan wireless dengan jangkauan area yang kecil. Contohnya Bluetooth, Infrared, dan ZigBee.
b. Wireless LAN (WLAN) / Wifi
Wireless Local Area
Network (WLAN) atau biasa disebut Wifi memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibanding WPAN. Saat ini WLAN mengalami banyak peningkatan dari segi
kecepatan dan luas cakupannya. Awalnya WLAN
ditujukan untuk penggunaan
perangkat jaringan lokal, namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengakses
internet. Aplikasi WLAN untuk
kebutuhan SOHO secara detail meliputi
arsistektur, perangkat dan administrator.
SOHO (Small
office – Home office) adalah istilah yang mengacu pada bisnis atau usaha kecil yang dilakukan di
rumah. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dengan menggunakan konsep ini,
antara lain.
Kita bisa menghemat waktu perjalanan dan
menghindari kemacetan yang menjadi bagian kehidupan kota-kota besar. Kita bisa
lebih fleksibel dalam mengatur waktu dan bisa menjadikannya part-time dari pekerjaan utama kita. Suasana
kantor dirumah menjadi nyaman karena rumah kita sendiri dan dekat dengan
kehangatan keluarga.
Perangkat :
(a). AP (Access
Point).(b) Switch.(c)Modem-router.(d) PC.(e) NIC Ethernet.(f) Cable. Administrator jaringan : Administrator jaringan
bertugas untuk mengatur jalannya data pada jaringan agar tetap lancar dan
mengamankan segala sesuatu yang membahayakan data-data yang melewati jalur
tersebut. Dengan memastikan bahwa hal tersebut bisa di manage dengan baik, maka
tugas administrator bisa dikatakan
baik. Berikut beberapa hal yang
perlu diperhatikan administrator
dalam mengamankan suatu sistem jaringan wireless
1). Merubah nama Service Set ID (SSID) (2) Merubah password adminitrator.(3) Membatasi ujian untuk mengkonfigurasi Access
Point secara remote.(4) Gunakanlah pengaman (berupa enkripsi) pada jaringan wireless.(5) Mematikan broadcast SSID (blok broadcast SSID).(6)
Lakukanlah filter
MAC Address (MAC Address Filtering)(7)Proses koneksi jaringan WLAN
antara AP dengan station
Wireless Distribution System (WDS) memungkinkan jaringan wireless dikembangkan menggunakan beberapa access point tanpa harus memerlukan backbone kabel jaringan untuk menghubungkan mereka, seperti
cara tradisional. Keuntungan yang bisa kelihatan dari Wireless Distribution System dibanding solusi lainnya adalah bahwa dengan Wireless Distribution System, header MAC address dari paket traffic
tidak berubah antar link access point.
Suatu access point bisa menjadi
sebuah station utama, relay, atau remote
base station.
2.4.
Pengertian
Access Point
sumber : http://hilmaninformasi.blogspot.co.id/2013/10/penjelasan-access-point-ap.html.
1. Access Point adalah sebuah perangkat jaringan yang berisi sebuah transceiver dan antena untuk transmisi dan menerima
sinyal ke clients remote.
2. Access point
adalah adalah perangkat, seperti router
nirkabel / wireless, yang memungkinkan perangkat nirkabel untuk terhubung ke jaringan.
3. Access Point dalam
jaringan komputer adalah
sebuah jalur akses nirkabel (Wireless
Access Point atau AP) adalah perangkat komunikasi nirkabel yang
memungkinkan antar perangkat untuk terhubung ke jaringan nirkabel dengan menggunakan Wi-Fi,
Bluetooth atau standar terkait.
4. Access Point adalah perangkat
yang digunakan untuk membuat koneksi wireless
pada sebuah jaringan.
2.5.
Fungsi Access Point
Access Point berfungsi sebagai untuk
(1). Mengatur supaya AP dapat berfungsi sebagai DHCP server.(2) Mencoba fitur Wired Equivalent Privacy (WEP)
dan Wi-Fi Protected Access(WPA).(3) Mengatur akses
berdasarkan MAC Address device
pengakses.(4) Sebagai Hub/Switch yang bertindak untuk
menghubungkan jaringan lokal dengan jaringan wireless/nirkabel
2.7. Pengertian Wireless Distribution System (WDS)
Gambar 2.1 Topologi WDS
(Sumber: www.transiskom.com)
Syarat untuk membangun wds yaitu:
1. Access Point utama maupun Access Point Repeater harus mendukung fitur WDS.(2) Masing-masing
IP
Address Access Point tidak boleh sama.(3) Sebagian besar Authentication access point yang didukung
dalam WDS adalah WEP 64/128 bit.
Dan semua Access Point yang terlibat dalam 1
koneksi harus menggunakan Methoda
Inkripsi / Authentication yang sama.(4) Channel Radio yang digunakan harus sama. Misal Channel 10.(5) Matikan
layanan DHCP Server pada Access Point
Repeater, karena DHCP akan
diambil alih Access Point utama yang sebagai default gateway.(6) Ada kemungkinan WDS tidak
berfungsi jika Access Point utama danAccess Point Repeater berbeda merek.
Macam-Macam
Mode Pada Wireless
Distribution System (WDS)o-A bisa
dibagi menjadi dua mode konektifitas wireless, yaitu :
Gambar 2.2. Topologi WDS
(Sumber:
http://www.transiskom.com/2012/10/pengertian-wireless-distribution-system.html
Wireless
Distribution System (WDS) bisa
diterapkan oleh Access Point yang berbeda (untuk merek dan tipe tertentu, dan tidak
semua Access Point memiliki fitur Wireless
Distribution System / WDS).
Dengan Wireless
Distribution System (WDS) memungkinkan jaringan wireless dikembangkan menggunakan beberapa access point tanpa
harus memerlukan backbone kabel jaringan untuk
menghubungkan mereka, seperti cara tradisional. Keuntungan yang bisa kelihatan
dari Wireless Distribution System dibanding
solusi lainnya adalah bahwa dengan Wireless
Distribution System, header MAC address dari paket traffic tidak berubah
antar link access point. tidak
seperti pada proses encapsulation misalnya pada komunikasi antar router yang selalu menggunakan MAC address pada hop berikutnya.
Suatu access
point bisa menjadi sebuah station utama, relay, atau remote base
station. Suatu base station utama
pada umumnya dihubungkan dengan system Ethernet. Base
station relay merelay station-2 kepada base station utama atau relay station lainnya. Remote base station menerima koneksi
dari clients wireless dan
melewatkannya ke main station atau ke relay
station juga. Koneksi antar clients
menggunakan MAC address dibanding
memberikan spesifikasi IP address.
Kunci
inkripsi yang secara dinamis di berikan dan dirotasi biasanya tidak disupport
dalam koneksi Wireless Distribution
System (WDS). Ini berarti dynamic
inkripsi WPA (Wi-Fi Protected Access) dan technology dynamic key lainnya
dalam banyak kasus tidak dapat digunakan, walaupun WPA menggunakan pre-shared
key adalah memungkinkan. Hal ini
dikarenakan kurangnya standarisasi dalam issue
ini, yang mungkin saja di selesaikan dengan standard
802.11s mendatang. Sebagai akibatnya cukuplah kunci static WEP dan WPA yang
bisa digunakan dalam koneksi Wireless
Distribution System, termasuk segala station yang difungsikan sebagai access point WDS repeater. Akan tetapi
sekarang ini sudah banyak vendor yang telah engadopsi
standard 802.11i dalam produk access point mereka sehingga WPA / WPA2 adalah standard keamanan
koneksi mereka (setidaknya yang mereka claim).
Gambar
WDS 2.3. Point to Point – Diagram
Dengan
Wireless Distribution System, bisa membangun infrastrucktur wireless tanpa harus membangun backbone kabel jaringan sebagai
interkoneksi antar bridge. Wireless Distribution System fitur
memungkinkan kita membuat jaringan-2 wireless
yang besar dengan cara membuat link beberapa
wireless access point dengan WDS Links. Wireless Distribution System
normalnya digunakan untuk membangun jaringan yang besar dimana menarik kabel
jaringan adalah tidak memungkinkan, alias mahal, terbatas, atau secara fisik
tidak memungkinkan untuk ditarik.
Gambar
WDS 2.4. Point to Multi Point
Gamabar
2.5. WDS Repeater.
Jika jalur akses dapat berupa stasiun pangkalan
utama, relay atau remote. Sebuah
stasiun pangkalan utama biasanya dihubungkan ke kabel Ethernet. Sebuah base station
relay data antara stasiun pangkalan terpencil, klien nirkabel atau stasiun relay
lain untuk baik utama atau base station
lain relay. Sebuah stasiun pangkalan
terpencil menerima koneksi dari klien
nirkabel dan melewati mereka ke stasiun relay atau utama. Sambungan antara “klien” yang dibuat dengan menggunakan
alamat MAC dari pada dengan
menentukan tugas-tugas IP.
2.9.
Pengertian WiFi
Wi-Fi juga ditulis Wifi atau WiFi adalah
sebuah teknologi terkenal yang memanfaatkan peralatan elektronik untuk bertukar
data secara nirkabel menggunakan
gelombang radio melalui sebuah jaringan komputer, termasuk koneksi Internet
berkecepatan tinggi. Wi-Fi Alliance
mendefinisikan Wi-Fi sebagai
"produk jaringan wilayah lokal nirkabel
(WLAN) apapun yang didasarkan pada
standar Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE)
802.11". Meski begitu, karena kebanyakan WLAN zaman sekarang didasarkan pada standar tersebut, istilah "Wi-Fi" dipakai dalam bahasa
Inggris umum sebagai sinonim "WLAN".
2.10.
Masalah Jaringan Wireless
Sebelum kita membahas masalah
jaringan wireless, terlebih dahulu kita juga harus mengerti bagaimana proses terjadinya koneksi wireless clients kepada jaringan wireless. Hal ini sangat membantu sekali dalam kita melakukan troubleshooting. Seiring semakin banyaknya pemakai wireless
network ini, wireless problems sudah menjadi sesuatu yang sering
dihadapi dan dipertanyakan.
2.11. Proses koneksi wireless
Berikut adalah proses atau langkah terjadinya suatu
koneksi wireless yang perlu dipahami
yang akan sangat membantu kita dalam menyelesaikan masalah.
(1) Proses
scanning wireless access point (AP) (2) Memilih wireless
access points.(3) Proses authentikasi terhadap wireless AP yang dipilih.(4) Proses
koneksi terhadap wireless AP yang
dipilih.(5) Mendapatkan konfigurasi TCP/IP address.
2.11.1. Scanning wireless AP
Komputer berbasis XP atau Vista
yang mempunyai wireless adapter active
yang supports Wireless Auto Configuration, akan selalu melakukan scanning adanya wireless AP pada jangkauannya setiap 60 sec. Saat scanning, wireless adapter mengirim
sederetan frame Probe Request. Sementara itu wireless AP yg ada pada jangkauan wireless adapter yg sedang melakukan scanning adanya wireless AP,
juga mengirim frame Probe response yang memuat capabilitas wireless AP seperti speed
yang disupport serta opsi-opsi security lainnya.
Gambar 2.6. Topologi WDS
Kita menganggap komputer mengalami masalah koneksi wireless jika tidak mendapatkan satupun wireless AP dalam jangkauan roamingnya.
2.11.2.
Memilih
suatu wireless AP
Dari frame Probe Response yang diterima, wireless client memilih wireless AP dimana ia akan mencoba
melakukan authentikasi dan koneksi. Wireless client menggunakan faktor-faktor berikut saat menentukan wireless AP
yang mana yang harus dipilih:
1.
Capabilitas wireless AP
Wireless AP memperkenalkan capabilitasnya
didalam frame Probe response. Jika wireless clients tidak mendukung
capabilitas yang diperkenalkan di dalam Probe
response tersebut maka wireless
client mengalami masalah jaringan wireless
– tidak bisa memilih wireless AP.
Misalnya wireless AP diactivekan security WPA2 sementara wireless clients tidak support WPA2 (wireless device 802.11b/g tidak support) maka wireless client tidak bisa memilih wireless AP tersebut. kita menganggapnya ada wireless problems.
2. Nama
jaringan wireless (SSID) cocok dengan jaringan preferencenya
Windows XP wireless auto
configuration memelihara daftar jaringan wireless yang kita pilih (preferred wireless network). jika nama wireless network SSID tidak cocok dengan yang ada dalam daftar nama-nama
SSID yang ada, maka default Windows
tidak bisa terhubung ke wireless AP.
Jika clients wireless menerima
beberapa Probe response yang ada
dalam daftar nama SSID, maka client wireless memilih menurut urutan
tertinggi dalam daftar preferred SSID.
Jika nama-nama wireless
network SSID dari frame Probe
response yang diterima tidak cocok dengan jaringan dalam daftar preference, Windows akan memunculkan
pesan “One or more wireless networks are
available” atau “Connect to a wireless network”. jika user mengklik pesan
ini, maka user memilih koneksi ke
jaringan wireless baru.
3.
Kekuatan signal
Wireless clients adapter memilih wireless AP dengan signal terkuat dari daftar nama-nama SSID yang ada yang paling tinggi dalam daftar
preference wireless name
2.11.3. Proses authenticasi
terhadap wireless AP yang dipilih
Setelah memilih wireless AP yang akan dikoneksikan,
proses selanjutnya adalah proses authentikasi.
Jenis authentikasi tergantung capabilitas security wireless AP dan
bagaimana client dikonfigure untuk melakukan authentikasi jaringan wireless.
Jika di tambakan wireless network dari
tab Wireless network pada property wireless connection , maka by
default adalah open system authentication dan kemudian IEEE 802.1X. Jika mengkoneksikan lewat
dialog box Connect to Wireless Network atau Choose a wireless network, maka setting authentikasi ditentukan dari capabilitas frame Probe response wireless AP. Windows XP
/Vista dapat menentukan dari frame
probe response apakah menggunakan open
system authentication tanpa encryption,
opensystem authentication dengan inkripsi
WEP, authentication WPA-PSK, ataupun authentication WPA2-PSK.
Sering terjadi masalah jika gagal melakukan proses authentikasi ini.
2.11.4. Proses koneksi terhadap wireless AP yang
dipilih
Setelah selesai melakukan proses aythentication, wireless adapter dan
wireless AP saling bertukar serangkaian pesan untuk membentuk suatu
koneksi.
2.11.5.
Mendapatkan konfigurasi TCP/IP
Setelah koneksi terbentuk, wireless client dapat memulai mengirim frame wireless yang mengandung paket TCP/IP. Jika wireless clients dikonfigurasi untuk menerima IP address automatis, maka ia akan menggunakan DHCP untuk request suatu konfigurasi IP address. umumnya wireless AP mempunyai layanan DHCP
server untuk menjawab request wireless
clients untuk konfigurasi IP. Dengan memahami ke lima proses
diatas, akan memudahkan dalam melakukan troublehooting
masalah jaringan wireless.
2.12.
Masalah umum wireless
– masalah konektivitas
Paling
banyak dalam masalah wireless adalah
sebagai berikut:
v
Tidak
berhasil melakukan koneksi wireless
v
Koneksi yang intermittent
Kedua hal inilah yang
paling banyak kita jumpai dalam hal wireless
problems.
2.13.
Tidak berhasil
melakukan koneksi wireless
Yang
paling banyak dalam masalah jaringan wifi
adalah tidak berhasilnya melakukan koneksi ke jaringan wireless, dari proses scanning
sampai mendapatkan IP address. Alasan
yang paling banyak dengan wireless
problems ini adalah sebagai berikut:
a.
Konfigurasi yang tidak klop / tidak matching
b.
Wireless auto configuration di
enable
sementara tool wireless
configuration bawaan dari vendor juga di install
c.
Wireless AP dikonfigurasi
dengan filter MAC
d.
Sumber
sinyal interferensi
e.
Sumber
sinyal attenuasi / pelemahan
2.13.1. Konfigurasi
yang tidak matching
Beberapa
property yang berbeda dari wireless connection
haruslah matching antara wireless AP dan wireless clients sebelum berhasil terbentuknya koneksi. Beberapa
masalah jaringan wireless yang
menyebabkan tidak matching adalah
berikut:
2.13.2. Technology 802.11
yang tidak matching
Ada tiga standard wireless 802.11 yang berbeda saat ini
yaitu 802.11b; 802.11g; dan 802.11a.
sementara satu lagi masih dalam draft
walau sudah mulai booming yaitu draft 2.0 802.11n. Walau banyak sudah
pabrikan yang memproduksi teknologi yang bisa support beberapa standard dalam satu kemasan, bisa saja terjadi ke
tidak cocokan dalam teknologi ini. Misalkan wireless
AP dengan standard 802.11a tidak
akan bisa terhubung dengan wireless
clients dengan standard 802.11b/g.
Akibatnya wireless problems akan terjadi.
2.13.3. Methoda
authentikasi yang tidak matching
Wireless problems
jenis ini yang paling banyak terjadi. Wireless
client tidak berhasil melakukan authentikasi
jika antara wireless AP dan wireless
clients tidak klop. Method
authentikasi pada jaringan wireless rumahan
meliputi open system, shared key, WPA-PSK, and WPA2-PSK. Verifikasi
terlebih dahulu method authentikasi
yang dikonfigurasikan pada wireless AP,
dan sesuaikan pada setting yang ada
pada wireless client.
2.13.4.
Kunci WEP yang tidak matching
Jika
menggunakan authenkasi WEP pada standard device 802.11b/g/n dan
menspesifikasikan kunci WEP, adalah
sangat mungkin terjadi kesalahan pengetikan atau salah eja. Hal ini akan mengakibatkan wireless
problems karena kunci WEP tidak matching. Ketidak sesuaian interpretasi antara wireless AP dan wireless
client ini bakal menghalangi terjadinya komunikasi – yang akibatnya tidak
terbentuk koneksi. Hal ini sering kita jumpai computer kita hanya mendapatkan IP
address APIPA dan menampilkan status “Limited
or no connectivity” pada wireless connection. Kita pun
menganggapnya ada masalah jaringan wireless.
Method
konfigurasi kunci WEP tergantung pada versi Windows pada wireless client.
Ø Pada Windows XP tanpa di install
service pack, dan harus mengetikkan kunci WEP pada kolom Network Key,
spesifikasikan format pada kunci WEP (baik
character ASCII maupun Hexa), spesifikasikan juga panjang
kuncinya (40bit atau 104 bit pada
kolom Key length).
Ø Untuk Windows XP dengan SP1/SP2, diharuskan menspesifikasikan key
WEP dua kali pada Network
Key dan Confirm Network Key.
Format panjang key tidak perlu karena
akan ditentukan secara automatis
menurut kunci yang diketikkan. Untuk Windows dengan SP2 harus memilih WEP pada Data Encryption.
Jika menggunakan Wireless Network Setup Wizard
dalam Windows XP SP2, semua devices yg support Windows Connect Now
secara automatic dikonfigure dengan WEP key yang sama.
2.13.5.
WEP Key index tidak match
WEP Key index adalah suatu nomor
yang menspesifikasikan WEP key yang
mana yang akan dipakai untuk encryption
frame wireless. Kami bisa menggunakan sampai 4 WEP keys yang berbeda. Dalam prakteknya hanya ada satu key index
yang dipakai, yang sama dengan kemungkinan WEP
key pertama. Wireless AP dan wireless client keduanya harus
dikonfigurasi mengunakan kemungkinan WEP
key pertama. Jika tidak, maka terjadi masalah jaringan wifi tidak terjadi koneksi.
Menspesifikasikan kemungkinan pertama WEP key tergantung bagaimana wireless client dan wireless AP memulai
penomoran ke empat kemungkinan WEP key.
Misal bisa saja penomoran dimulai dari 1 (1 ~4) atau dimulai dari 0 (0~3).
Pilih kemunkinan pertama WEP key.
Misalnya, Windows XP tanpa service pack memulai penomoran dengan 0,
sementara pada Windows SP1/SP2
memulai pada nomor 1.
2.13.6.
Tidak match WPA-PSK atau
WPA2-PSK
Jika
kami memakai authentikasi WPA-PSK atau
WPA2-PSK, kita harus melakukan konfigurasi nilai preshared key pada kolom Network key
dan Confirm network key. Pastikan kedua wireless client dan wireless AP mempunyai nilai preshared key yang sama. Untuk WPA anda harus memilih TKIP pada Data encryption dan WPA-PSK pada Network Authentication.
Untuk WPA2 dengan Windows XP2, harus memilih AES pada Data
Encryption dan WPA2-PSK
pada Network
Authentication.
Jika anda menggunakan Wireless Network Setup Wizard dalam Windows XP SP2, semua devices
yang support Windows Connect Now
secara automatis dikonfigure dengan nilai WPA
preshared key yang sama. Wireless
Network Setup Wizard tidak support
configurasi dari nilai WPA2 preshared
key.
2.14.
Wireless auto configuration di enable sementara tool wireless
configuration fihak
ketiga juga di install
Windows XP Wireless Auto
Configuration memberikan support integrasi pada wireless networking dan membantu
mengautomasi konfigurasi wireless.
Wireless network adapters menyediakan suatu tool wireless network configuration. Jika adapter tersebut support
Wireless Auto Configuration, maka tidak memerlukan lagi software tool dari vendor adapter
tersebut. Untuk mengetahui apakah wireless
adapter support Wireless Auto
Configuration, klik kanan wireless connection
dalam folder the Network Connections
dan pilih property. Jika ada tab Wireless
Networks
maka wireless network
adapter support Wireless Auto
Configuration. Untuk menghindari konflik yang bisa membuat masalah jaringan
wireless, maka tidak usah di install tool dari vendor ini.
Karena seringnya terjadi
masalah saat konfigurasi dan koneksi jika Wireless
Auto Configuration di-enabled dan
wireless network configuration tool juga di install. Karena dalam hal ini
kedua Wireless Auto Configuration dan
wireless network configuration tool bisa saja mengirim setting kepada wireless network adapter, akibatnya
adalah konfigurasi yang tidak matching –
karenaa akan mengalami masalah.
Untuk
menghindari masalah nantinya gunakan salah satu saja baik Wireless Auto Configuration atau wireless network configuration
tool. Misal
saja wireless adapter mempunyai tool yang bisa anda gunakan, sementara
tidak support Wireless Auto Configuration,
maka disable saja Wireless Auto
Configuration dan gunakan wireless
network configuration tool. Bagaimana disable Wireless Auto Configuration? Pada Wireless Networks tab pada property wireless
connection dalam Network Connections, hilangkan contrengan Use
Windows to configure my wireless network settings.
Jika memutuskan untuk
menggunakan wireless network
configuration tool bawaan dari vendor,
untuk keperluan setting jangan lagi menggunakan Wireless Networks tab, gunakan tool ini untuk setting seperti
wireless network name (SSID),
authentikasi dan encryption.
Jika menggunakan Wireless Auto Configuration, maka remove saja program bawaan dari vendor dari Control Panel-Add or Remove Programs ataupun dari Uninstall program tersebut.
2.14.1.
Wireless AP dikonfigurasi dengan fileter MAC
Wireless AP
memungkinkan kita menspesifikasikan address
MAC (media access control – atau
lazim disebut juga address physical atau address hardware)
tertentu saja yg bisa mengirim frame kepada
wireless AP. Fitur ini disebut
sebagai MAC address filtering yg
dirancang untuk memberikan layer
keamanan extra pada jaringan wireless. Akan tetapi hacker bisa saja dengan mudah
menghalangi keamanan exta ini dengan
cara menangkap frame yang dikirim
dari dan ke wireless client yang
diijinkan dan me-reprogram wireless
adapter dirinya untuk menggunakan valid
MAC address dalam daftar wireless AP.
Jika wireless
adapter tidak terdaftar dalam MAC
address list pada wireless AP,
maka anda mengalami wireless problems
– clients tidak bisa aksess ke wireless AP. Jadi pastikan wireless clients terdaftar dalam list MAC address yang dibolehkan access ke wireless AP.
2.14.2.
Sumber Interferensi Signal
Standard 802.11b/g
bekerja pada frequency 2.4 GHz yang sama dipakai pada perangkat wireless lainnya seperti cordless phone, microwave, perangkat
keamanan dan monitoring rumah, dan juga camera
video wireless. Sumber
interferensi ini sangat mengganggu yang bisa mengakibatkan wireless problems dimana client
wi-fi komputer tidak bisa koneksi ke wireless
AP.
Untuk
memstikannya, matikan sementara sumber interferensi ini atau pindahkan wireless client dan wireless AP jauhan
dari sumber interferensi ini, dan lihat apakah ada perubahan atau masih ada
masalah jaringan wireless.
2.14.3.
Sumber Pelemahan / Attenuasi Signal
Sumber
pelemah / penghalang signal seperti dinding, atap, lapisan metal antara wireless clients
dan wireless AP dapat menyebabkan
gangguan signal wireless, atau
hilangnya kekuatan signal. Pada beberapa kasus bahkan kehilangan signyal sama
sekali yang menyebabkan masalah wifi –
tidak bisa terhubung sama sekali.
2.14.4.
Koneksi Yang Intermittent
Dalam beberapa kasus, banyak
terjadi masalah dimana awalnya mendapatkan signal kuat dan tiba-tiba terputus tanpa interfensi si user. Paling banyak
masalah jarigan wireless ini
disebabkan oleh berikut ini:
Ø Authentikasi
802.1X di enable pada
wireless client sementara pada wireless AP tidak
Ø Duplikat Nama jaringan wireless (SSID)
Ø Sumber interferensi
Ø Sumber attenuasi / pelemahan
Ø Virus komputer
Ø Kerusakan perangkat atau driver yang kadaluarsa / outdated
2.15.
802.1X Authentication di Enabled pada Wireless Client dan
tidak pada Wireless AP
802.1X authentication
secara default adalah enable pada semua koneksi wireless maupun wired. Pada Windows XP SP1,
Microsoft mengubah proses authentikasi
untuk jaringan wireless. Jika 802.1X
authentication di enable dan
proses authentikasi tidak selesai sempurna, maka koneksi akan putus. Hal ini
biasanya terjadi 3 menit setelah koneksi terbentuk menggunakan system authentikasi terbuka.
Untuk memperbaiki hal ini pada Windows XP SP1, lakukan berikut ini
1.
Klik
Start => Settings kemudian klik Network
Connections.
2. Pada Network Connections, klik kanna wireless
connection dan kemudian klik Properties.
3.
Klik
Wireless
Networks tab
=> dibawah Preferred networks
klik wireless network name, dan kemudian
klik Properties.
4.
Klik
tab Authentication, kemudian kosongkan
contrengan Enable IEEE 802.1x authentication
for this network.
5.
Klik
OK
dua kali untuk menerima perubahannya.
Prosedur ini umumnya tidak diperlukan pada
komputer yang jalan pada Windows XP
tanpa Service pack atau Windows XP
dengan SP2. Akan tetapi perlu juga
mematikan 802.1X authentication di
disable jika menggunakan open system
authentication. Prosedur diatas juga berlaku untuk Windows XP SP2.
Untuk Windows XP tanpa SP, lakukan berikut
ini:
1.
Klik Start => Settings kemudian klik Network
Connections.
2.
Pada
Network Connections, klik kanan wireless connection dan kemudian klik Properties.
3.
Klik
Authentication
tab, kemudian kosongkan contrengan Enable network access control using
IEEE 802.1x
4.
Klik OK
untuk menyimpannya.
2.16.
Duplikat Nama Jaringan Wireless.
Salah
satu alasan koneksi yang intermittent adalah
nama jaringan wireless duplikat
dengan jaringan wireless lainnya
didalam jangkauan wireless clients.
Misalkan, dalam kampus yang berdekatan terdapat dua jaringan wireless dengan nama SSID yang sama yang saling overlap. Dalam hal ini semua wireless AP yang memperkenalkan diri
dengan nama SSID yang sama dianggap
berasal dari satu jaringan wireless
yang sama. Wireless client dari wireless AP bisa saja mengambil jaringan
wireless AP yang lain dengan nama SSID yang sama tadi. Jika wireless client tidak di configure menurut method authentikasi dan key dari jaringan wireless yang lain, maka akan mengalami
masalah jaringan wireless yang intermittend sampai wireless client di kembali memilih wireless AP.
Kebanyakan kasus nama duplikat dari jaringan wireless ini adalah cara setup jaringan wireless AP dengan setting default tanpa mengubah nama SSID nya.Pastikan selalu mengubah nama default dari pabrik agar
tidak terjadi kemungkinan nama SSID
yang sama dengan jaringan wireless
lain yang tidak mengubah default namanya.
Untuk memastikan duplicat nama jaringan yang sama, matikan dulu wireless AP dan periksa
apakah wireless client masih menerima
SSID yang sama juga dengan nama
jaringan SSID dari wireless AP. Untuk
menghindari masalah jaringan wireless,
configure wireless AP dengan nama SSID yang unik.
2.17.
Sumber Sinyal
Interferensi
Seperti
halnya sinyal interferensi yang bisa menyebabkan masalah jaringan wireless – kurangnya konektifitas,
sinyal ini juga bisa menyebabkan koneksi yang intermittent. Perangkat seperti microwave oven, cordless phone, system
keamanan dan monitoring rumah, dapat menjadi sumber interferensi yang membuat
masalah.
Untuk memastikan, coba uji dengan mematikan
sementara sumber-sumber
sinyal interferensi tersebut dan lihat apa ada perubahan atau tidak.
2.17.1.
Sumber pelemahan
sinyal
Sumber
pelemahan sinyal
disamping bisa mengurangi kekuatan sinyal koneksi, dia bisa juga menyebabkan
masalah – koneksi yang intermittent. Perlu memperhatikan korelasi terjadinya intermittent dengan sumber pelemahan
sinyal ini. Misalnya saja ada terjadinya
intermittent saat ada seseorang yang sedang membuka pintu garasi yg terbuat
dari metal.
2.17.2.
Komputer Viruses
Beberapa virus komputer
diketahui bisa menyebabkan masalah jaringan wireless
– terjadinya koneksi yang intermittent.
Pastikan bahwa komputer
dilengkapi dengan antivirus misal McAfee,
Norton, atau BitDefender
dan diupdate selalu.
2.17.3.
Kerusakan hardware atau software driver yang outdated
Bisa saja tejadi masalah
jaringan wifi dikarenakan kerusakan
pada wireless AP atau wireless clients pada komputer. kalau
anda tidak mempunyai perangkat backup cadangan agak susah juga mendeteksinya.
Yang paling bisa dilakukan adalah melakukan diagnostic
dari tool bawaan dari vendor perangkat wireless tersebut.
Pastikan Windows mempunyai driver dengan versi terbaru dari wireless adapter. Begitu juga upgrade firmware wireless AP dengan firmware terbaru daru vendor. Beberapa jenis wireless router mempunyai fitur automatis update firmware.
2.18.
Model Referensi OSI (Open System
Interconection)
Model referensi OSI merupakan model kerangka kerja yang
diterima secara global bagi
pengembangan standar yang lengkap dan terbuka. Model OSI membantu menciptakan standar terbuka antar system untuk saling
berhubungan dan saling berkomunikasi terutama dalam bidang teknologi informasi.
Model
referensi OSI secara konseptual
terbagi ke dalam tujuh lapisan dimana masing-masing lapisan memiliki fungsi
jaringan yang spesifik. Model ini diciptakan berdasarkan sebuah proposal yang
dibuat oleh The International Standards
Organization (ISO) sebagai langkah awal menuju standarisasi protokol
Internasional yang digunakan pada berbagai Layer
.
Model
OSI memiliki tujuh Layer. Prinsip-prinsip yang digunakan
bagi ketujuh Layer tersebut yaitu:
(a) Sebuah Layer harus dibuat bila diperlukan tingkat abstraksi yang berbeda.(b)
Setiap Layer harus
memiliki fungsi-fungsi tertentu.(c)
Fungsi setiap Layer harus dipilih dengan teliti sesuai dengan ketentuan
standar protocol internasional.(d) Batas-batas Layer
diusahakan agar meminimalkan aliran informasi yang melewati interface.(e) Jumlah Layer harus cukup
banyak, sehingga fungsi-fungsi yang berbeda tidak perlu disatukan dalam satu
Layer diluar keperluannya.
Akan tetapi jumlah Layer juga harus
diusahakan sesedikit mungkin sehingga arsitektur jaringan tidak menjadi sulit
dipakai , Model referensi OSI secara
konseptual terbagi ke dalam tujuh lapisan dimana masing-masing lapisan memiliki
fungsi jaringan yang spesifik, seperti yang dijelaskan berikut ini :
1. Physical Layer
Physical Layer berfungsi dalam pengiriman raw bit ke channel komunikasi. Masalah
desain yang harus diperhatikan disini adalah memastikan bahwa bila satu sisi
mengirim data 1 bit, data tersebut harus diterima oleh sisi lainnya sebagai 1
bit juga, dan bukan 0 bit. Secara umum masalah-masalah desain yang ditemukan di
sini berhubungan secara mekanik, elektrik dan interface prosedural, dan media fisik yang berada di bawah lapisan
fisik.
2.
Data
link Layer
Tugas utama data link Layer adalah sebagai fasilitas transmisi raw data dan mentransformasi data tersebut ke saluran
yang bebas dari kesalahan transmisi. Sebelum diteruskan ke Network Layer, data link
Layer melaksanakan tugas ini dengan memungkinkan pengirim memecag-mecah
data input menjadi sejumlah data frame
(biasanya berjumlah ratusan atau ribuan byte).
Kemudian data link Layer
mentransmisikan frame tersebut secara
berurutan, dan memproses acknowledgement
frame yang dikirim kembali oleh penerima. Masalah-masalah lainnya
yang timbul pada data link Layer (dan
juga sebagian besar Layer-Layer di
atasnya) adalah mengusahakan kelancaran proses pengiriman data dari pengirim
yang cepat ke penerima yang lambat. Mekanisme pengaturan lalu-lintas data harus
memungkinkan pengirim mengetahui jumlah ruang buffer yang dimiliki penerima
pada suatu saat tertentu.
3. Network Layer
Network
Layer
berfungsi untuk pengendalian operasi subnet.
Masalah desain yang penting adalah bagaimana caranya menentukan router
pengiriman
paket dari sumber ke tujuannya. Bila pada saat yang sama dalam sebuah subnet
terdapat terlalu banyak paket, maka ada kemungkinan paket-paket tersebut tiba
pada saat yang bersamaan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya bottleneck. Pengendalian kemacetan
seperti itu juga merupakan tugas Network
Layer. memungkinkan jaringan-jaringan yang berbeda seperti protocol yang berbeda, pengalamatan dan
Arsitektur jaringan yang berbeda untuk saling terinterkoneksi.
Spanning Tree Protocol Pondasi infrastructure jaringan dalam membangun
suatu infrastructure jaringan, kita membangun pondasi infrastructure logis (seperti layanan directory dari system windows server 2003, domain name system) dan
juga infrastructure fisik (seperti domain
controller, piranti jaringan seperti router
dan switch). Switch adalah piranti
jaringan yang paling banyak dipakai dalam suatu infrastructure jaringan fisik.
Gambar 2.7
Local area
network memberikan fungsi pengiriman data melalui berbagai jenis jaringan fisik. Local area network beroperasi pada layer
1 (layer physical) dan 2 (layer data link) dalam model referensi OSI yang bekerja secara sinergi untuk
melaksanakan tugas terbentuknya komunikasi data dengan design yang bagus dari environment jaringan.
5.
Transport
Layer
Fungsi dasar transport Layer adalah menerima data dari session Layer, memecah data menjadi bagian-bagian yang lebih kecil
bila perlu, meneruskan data ke Network
Layer, dan menjamin bahwa semua potongan data tersebut bisa tiba di sisi
lainnya dengan benar. Selain itu, semua hal tersebut harus dilaksanakan secara
efisien, dan bertujuan dapat melindungi Layer-Layer
bagian atas dari perubahan teknologi hardware
yang tidak dapat dihindari.
6.
Session
Layer
Session
Layer
mengijinkan para pengguna untuk menetapkan session
dengan pengguna lainnya. Sebuah session selain memungkinkan transport data biasa, seperti yang
dilakukan oleh transport Layer, juga
menyediakan layanan yang istimewa untuk aplikasi-aplikasi tertentu. Sebuah session digunakan untuk memungkinkan
seseorang pengguna log ke remote timesharing system atau untuk
memindahkan file dari satu mesin kemesin lainnya.
7. Presentation Layer
Pressentation Layer melakukan fungsi-fungsi tertentu yang
diminta untuk menjamin penemuan sebuah penyelesaian umum bagi masalah tertentu.
Pressentation Layer tidak mengijinkan
pengguna untuk menyelesaikan sendiri suatu masalah. presentation Layer memperhatikan syntax dan semantik informasi yang dikirimkan contoh layanan pressentation adalah encoding data.
8. Application Layer
Application Layer memiliki fungsi untuk menentukan
terminal virtual jaringan abstrak, serhingga editor dan program-program lainnya
dapat ditulis agar saling bersesuaian. Untuk menangani setiap jenis terminal,
satu bagian software harus ditulis
untuk memetakan fungsi terminal virtual jaringan ke terminal sebenarnya. Fungsi
Application Layer lainnya adalah
pemindahan file. Sistem file yang satu dengan yang lainnya memiliki konvensi
penamaan yang berbeda, cara menyatakan baris-baris teks yang berbeda, dan
sebagainya. Perpindahan file dari sebuah sistem ke sistem lainnya yang berbeda
memerlukan penanganan untuk mengatasi adanya ketidak-kompatibelan ini. Tugas appication Layer, seperti pada surat
elektronik, remote job entry, directory
lookup, dan berbagai fasilitas bertujuan umum dan fasilitas bertujuan
khusus lainnya.
2.19.
Channel dan inkripsi yang sama
Semua base station dalam Wireless
Distribution System (WDS) harus dikonfigure menggunakan channel radio yang sama, methoda inkripsi (tanpa inkripsi, WEP, atau
WAP) dan juga kunci inkripsi yang sama. Mereka bisa dikonfigurasi dengan menggunakan SSID (service set
identifiers) yang berbeda sebagai identitas. Wireless Distribution System (WDS) juga mengharuskan setiap base station untuk bisa melewatkan
kepada lainnya didalam system.
Wireless Distribution System (WDS) bisa juga direferensikan sebagai
mode repeater karena dia bisa tampak
sebagai Bridge dan juga menerima wireless clients pada saat bersamaan
(tidak seperti system bridge tradisional).
Tetapi perlu juga diperhatikan bahwa throughput
dalam metode ini adalah menjadi setengahnya
untuk semua clients yang terhubung
secara wireless.
2.20.
Mode koneksi
Wireless Distribution System (WDS) bisa digunakan dalam dua jenis
mode konekstivitas antar Access point
2.21.
Kerugian
WDS
Ada dua kerugian dalam system Wireless Distribution System (WDS)
ini:
Troughput efektif maksimum adalah terbagi dua setelah transmisi pertama (hop) dibuat. Misalkan, dalam kasus dua router dihubungkan system
Wireless Distribution System (WDS), dan komunikasi terjadi antara satu
komputer yang terhubung ke router A
dengan sebuah laptop yang terhubung secara
wireless dengan salah satu access
point di router B, maka troughputnya
adalah separuhnya, karena router B
harus re-transmit informasi selama komunikasi antara dua belah sisi. Akan
tetapi jika sebuah komputer dikoneksikan ke router
A dan notebook di koneksi kan ke router
B (tanpa melalui koneksi wireless),
maka troughput tidak terbelah dua
karena tidak ada re-transmit
informasi.
2.22.
Tidak
support dynamic inkripsi
Kunci inkripsi yang secara dinamis di berikan dan
dirotasi biasanya tidak disupport dalam koneksi Wireless Distribution System (WDS). Ini berarti dynamic inkripsi WPA (Wi-Fi Protected Access)
dan technology dynamic key lainnya
dalam banyak kasus tidak dapat digunakan, walaupun WPA menggunakan pre-shared
key adalah memungkinkan. Hal ini dikarenakan kurangnya standarisasi dalam issue ini, yang mungkin saja di
selesaikan dengan standard 802.11s
mendatang. Sebagai akibatnya cukuplah kunci static
WEP dan WPA yang bisa digunakan dalam koneksi Wireless Distribution System, termasuk segala station yang
difungsikan sebagai access point WDS
repeater. Akan tetapi sekarang ini sudah banyak vendor yang telah engadopsi
standard 802.11i dalam produk access
point mereka sehingga WPA / WPA2
adalah standard keamanan koneksi
mereka (setidaknya yang mereka claim).
Gambar dibawa ini adalah access point yang dihubungkan dengan WDS Link point-to-point.
Gambar 2.18. Click to
enlarge – WDS Point to Point
2.23.
Tidak perlu backbone kabel
Dengan Wireless Distribution System, WDS ini bisa membangun infrastrucktur wireless tanpa harus
membangun backbone kabel jaringan
sebagai interkoneksi antar bridge.
Wireless Distribution System fitur memungkinkan kita membuat jaringan-jaringan wireless yang besar dengan cara membuat
link beberapa wireless access point dengan
WDS Links. Wireless Distribution System
normalnya digunakan untuk membangun jaringan yang besar dimana menarik kabel
jaringan adalah tidak memungkinkan, alias mahal, terbatas, atau secara fisik tidak
memungkinkan untuk ditarik.
Gambar 2.19.1 WDS Point to
multipoint
Gambar
diatas ini adalah contoh konfigurasi WDS
Link yang menghubungkan Point to
multi point WDS Link.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Tempat
dan Waktu Penelitian
3.1.1. Tempat
Penelitian
a. Tempat Penelitian Kantor Bupati Yalimo Provinsi
Papua.
3.1.2. Waktu Penelitian
a. Waktu
Penelitian di laksanakan
bulan Januari
sampai Maret Tahun 2016.
3.2 Alat yang digunakan
Peralatan penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Satu
unut Komputer.
Sebuah komputer berfungsi untuk proses konfigurasi jaringan
b) Modem satu buah
modem berfungsi sebagai
untuk koneksi ke internet.
c) Router Board MikroTik RB941-2nD / MikroTik RouterOS Level 4 satu buah.
Router Board ini
berfungsi sebagai server hotspot dan
untuk manajemen
jaringan,dengan level standart yaitu OS
Level 4. Dalam perancangan
ini tidak dibutuhkan fitur yang banyak, oleh karena itu tidak dibutuhkan level
tinggi untuk rancangan ini dan juga dengan harga yang terjangkau.
d) Access Point 2 Buah
AP berfungsi sebagai media jaringan hotspot. Perangkat yang digunakan adalah Ubiquiti
NanoStation M2 dengan power yang
cukup besar dan
berkualitas tinggi.
e)
Kabel
jaringan secukupnya.
Kabel dengan merek belden
cdt networking datatwist (R) 5E 1583A CM 4.PR24 VERIVIED (UL). digunakan untuk penghubung jaringan dan juga power untuk koneksi AP
ke POE dan Router. Dengan merek AMP original agar penggunaan
bisa dalam jangka waktu yg lama dan untuk mengurangi masalah pada
koneksi kabel.
f).
Winbox
Winbox
merupakan aplikasi remote yang di keluarkan mikrotik sendiri, berfungsin untuk
mempermudah konfigurasi router dengan
tampilan windows.
g).
software wifi analyzer
wifi
analyser adalah untuk
pengujian untuk memastikan kekuatan sinyal
h). Mozilla Firefox
Mozilla berfungsi untuk
percobaan browsing pada saat request access internet hingga muncul
halaman login.mpilan windows.
3.3
Metode Pengumpulan data
Adapun cara yang digunakan untuk
mengumpulkan data informasi yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Interview/Wawancara
Penulis melakukan wawancara atau
tanya jawab secara langsung dengan
selaku kepala bagian Humas dan Protokol Kantor Bupati Yalimo Bapak Drs. Demianus Wakman. M.Si, melakukan
tanya jawab tentang masalah jaringan komputer yang sementara digunakan di
Kantor Bupati Yalimo.
2. Observasi
Penulis melakukan pengamatan terhadap semua
kegiatan yang dilakukan selama
penelitian, serta mengambil dokumentasi dan membantu mengetik di Kantor Bupati
Yalimo bagian Humas
3.4. Konfigurasi Jaringan dan Pengujian
Penulis melakukan konfigurasi sesuai
dengan rencana penelitian, setelah dilakukan konfigurasi selanjutnya penulis
melakukan pengujian kualitas internet terhadap kualitas sinyal dari jaringan
yang dibuat
Gambaran Umum
Jaringan Yang Akan dibuat
Gambar 3.1 Topologi
Jaringan
Sumber:Hasil olahan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Analisis
4.1.1
Identifikasi Masalah
Gambar 4.1 Kantor Bupati Yalimo
Provinsi Papua
Kantor Bupati Yalimo seperti terlihat
di gambar 4.1 memiliki 25 Komputer yang terdiri atas 15 desktop/PC dan 10 laptop. Jaringan yang berjalan masih menggunakan wired LAN dan jaringan yang ada hanya
mencakup bagian hubungan masyarakat yang
terletak di bagian belakang bangunan Kantor Bupati Yalimo sehingga cakupan area
jaringan komputer tidak terkoneksi ke seluruh
komputer yang ada di Kantor Bupati
yang berjumlah 25 komputer. Adapun Topologi
yang digunakan di Kantor Bupati Yalimo seperti pada gambar 4.2
Gambar 4.2 Topologi Jaringan Sebelum
Menggunakan WDS
Sumber: Hasil olahan
Berdasarkan analisis masalah yang
terjadi selama observasi di Kantor Bupati Yalimo, saat ini jaringan komputer
yang ada di Kantor Bupati Yalimo memiliki beberapa kelemahan yaitu: (1)Switch
jaringan yang ada di Kantor Bupati Yalimo hanya berjumlah 5 port dan keseluruhan
port sudah terisi penuh.(2) Tidak semua komputer di Kantor Bupati Yalimo
terkoneksi dengan jaringan komputer karena kurangnya port switch yang tersedia.(3) Proses pertukaran data di Kantor
Bupati Yalimo masih dengan cara manual sehingga memerlukan waktu yang lebih
lama. (4) Belum diterapkannya jaringan
wireless di Kantor Bupati Yalimo sehingga setiap komputer yang terkoneksi
jaringan harus menggunakan kabel jika ingin terhubung ke jaringan.(5) Luasnya
lokasi sehingga tidak memungkinkan untuk perluasan jaringan kabel
4.1.2.
Alternatif Pemecahan Masalah
Setelah dilakukan survey dan wawancara
penulis memberikan usulan: (1) Membangun Jaringan Wireless di Kantor Bupati Yalimo.(2) Perluasan jangkauan jaringan
menggunakan metode Wireless Distribution
Sistem (WDS).(3) Jaringan bisa dihubungkan dengan kantor SKPD terdekat.(4) Perlu
dibangun server FTP (file transfer protocol) sebagai pusat
penyimpanan data.
4.2. Design
Jaringan dengan WDS
Topologi jaringan yang digunakan di Kantor
Bupati Yalimo masih menggunakan topologi standart
dan masih terbatas pada beberapa komputer. Design topologi jaringan wireless dengan wireless distribution sistem menggunakan 2 buah wireless Access Point TP-LINK dan 1 buah server FTP yang difungsikan sebagai pusat penyimpanan data. Berikut
adalah topologi WDS yang digunakan
pada Kantor Bupati Yalimo.
Gambar 4.3 Topologi Jaringan Wireless Distribution Sistem
Sumber Hasil olahan
4.2.1.
Perancangan Cakupan Sinyal
Cakupan
sinyal diukur dan digambarkan dalam denah Kantor Bupati, sehingga memudahkan
dalam penempatan perangkat jaringan seperti wireless
access point dan perangkat lainnya. Adapun cakupan sinyal seperti terdapat
pada gambar
Gambar 4.5 Cakupan Area menggunakan WDS
Sumber Hasil olahan
Berdasarkan cakupan area yang terdapat
dalam gambar, WDS area bisa mencakup seluruh ruangan
sehingga pengguna yang menggunaan laptop lebih mudah dalam mengakses jaringan
Kantor Bupati Yalimo. Jaringan kabel tetap digunakan dan dipergunakan untuk PC yang terhubung dalam jaringan sehingga
jaringan kabel bisa berkomunikasi dengan jaringan wireless yang dibangun.
4.3.
Hardware
Hardware yang dibutuhkan dalam penerapan
jaringan WDS di Kantor Bupati Yalimo:
4.3.1.
Router
Router yang digunakan adalah router mikrotik RB 951 sebanyak satu
buah router
Gambar 4.6 Spesifikasi Router
4.3.2.
Wireless
Access Point
Wireless
Access Point yang
digunakan adalah Wireless Access Point
TP-Link sebanyak dua buah Access Point
Gambar 4.7 Spesifikasi Access Point
4.4.
Implementasi Jaringan Nirkabel dengan Wireless Distribution Sistem
4.4.1.
Konfigurasi jaringan
Dalam konfigurasi jaringan Wireless Distribution Sistem yang
dibangun di Kantor Bupati Yalimo terdapat dua access point yang akan memencarkan sinyal SSID yang sama, client bisa
terkoneksi ke Access Point
mana-pun tergantung dari kualitas sinyal access
point yang paling bagus dari sisi client.
Ketika client berpindah lokasi
dari cakupan area access point maka secara
otomatis akan berpindah ke access point
yang menjangkau client tersebut. Untuk konfigurasi pada wlan1, masuk ke menu wireless > wds isi dengan wds mode: dynamic an WDS default Bridge dengan Bridge yang dibuat sebelumnya seperti
yang terlihat pada gambar.
Gambar 4.8 Konfigurasi WDS
Sumber:dari program Mkrotik/windokx
4.4.2.
Konfigurasi Wireless Access Point
Masuk ke browser dan ketika IP 192.168.0.254 pada menu login masukan username:
admin dan password: admin seperti terlihat dalam gambar
Gambar 4.9 Tampilan Login ke Wireless AP
Sumber: dari program Mkrotik/windokx
Tampilan
awal seting Wireless AP, pilih menu quick setup untuk melakukan seting
dengan cepat seperti terlihat pada gambar 4.10
Gambar 4.10 Tampilan Quick Setup
(Sumber:dari program Mkrotik/windok
Pada kolom tipe pilih static IP, selanjutnya masukan IP sesuai
dengan yang akan di konfigurasi dalam jaringan.
Gambar 4.11 Konfigurasi
(Sumber: dari program Mkrotik/windokx)
4.5
.
Pengujian WDS
Pengujian dilakukan dengan
mengelilingi Kantor Bupati dan memasuki satu-satu semua ruangan, setiap masuk
ke ruangan menunggu waktu 10 detik jeda untuk memastikan kekuatan sinyal yang
ada dalam ruangan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan software wifi analyzer. Berdasarkan pengujian dengan menggunakan wifi analyzer sebelum menggunakan WDS ada beberapa ruangan yang tidak
mendapat sinyal sama sekali, dan setelah menggunakan wi fi analyzer hasil tercantum sesuai dengan tabel 4.1.
Di bawah ini adalah
gambaran untuk meneteksi atau melihat kekuatan sinyal
Gambar
4.12. pengujian sinyal
Berdasarkan
pengujian dengan menggunakan wifi
analyzer sebelum menggunakan WDS
ada beberapa ruangan yang tidak mendapat sinyal sama sekali, dan setelah
menggunakan wi fi analyzer hasil
tercantum sesuai dengan tabel dibawah 4.1
Tabel 4.1. Besaran Sinyal Setiap
Ruangan
Sumber Hasil
olahan
|
No
|
Ruangan
|
Besaran
Kekuatan
Satuan (dbm)
|
|
1
|
Ruangan Bupati / Wakil Bupati
|
55
|
|
2
|
Aula
|
61
|
|
3
|
Ruangan Sekda
|
65
|
|
4
|
Ruangan Kabag I
|
72
|
|
5
|
Ruangan Kabag II
|
65
|
|
6
|
Ruangan Kabag III
|
65
|
|
7
|
Ruangan Kabag IV
|
62
|
|
8
|
Ruangan Kabag V
|
57
|
|
9
|
Ruangan Ass I
|
61
|
|
10
|
Ruangan Ass II
|
60
|
|
11
|
Ruangan Ass III
|
57
|
|
12
|
Parkiran
|
75
|
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Setelah dilakukan analisa implementasi,
dan pengujian jaringan WDS di Kantor
Bupati Yalimo, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut.
1.
Penggunaan
jaringan wireless sangat berguna
dalam hal kemudahan konfigurasi setiap client dan, jaringan wireless berbasis WDS tidak memerlukan kabel utama atau backbone sehingga penempatan
access point bisa di sembarang tempat.
2.
WDS tidak mempemasalahkan luasnya suatu
lokasi dalam penerapan jaringan dan
biaya
membangun jaringan
wireless mempunyai harga yang
relatif murah,jika di bandingkan dengan menggunakan
kabel disamping itu. Semua Jaringan komputer berbasis kabel dapat di
gabungkan dengan WDS yang dibangun.
5.2.
SARAN
Saran
yang dapat diambil dari sistem jaringan ini adalah :
1.
Penambahan
Access Point untuk jaringan WDS yang dibuat sebaiknya menggunakan tipe dan merek yang
sama demi memudahkan konfigurasi jaringan di Kantor Buapati Yalimo
2.
Access point diletakkan per lantai, agar memperoleh kualitas signal yang
maksimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Alif Subardono, Lukito Edi Nugroho,
dan Sujoko Sumaryono, 2008, Analisis Performa Wireless DistributionSystem Konfigurasi
Star, Chain, Loop, dan Mesh untuk Hotspot Area,
Tesis Pascasarjana Teknik ElektroUniversitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Anonim, 2002, Orinoco Technical
Bulletin 046/A : Wireless Distribution System, Orinoco.
Anonim, Mikrotik RouterOS v2.9
Reference Manual, Mikrotik, Latvia.
Cesdraschi, Nicolas, Mobile WLAN
Access Point for The ETH Shuttle Bus.
Geier Eric, 2007, Wi-Fi Hotspots,
Cisco Systems, Inc. Cisco Press.
Gunawan, Arief Hamdani. 2003, Komunikasi
Data via IEEE 802.11, Dinastindo.
Jakarta.
Peterson, Larry L. dan Davie Bruce
S., 2003, Computer Network : A System Approach, 3rd edition, Morgan
Kaufmann Publishers, San Fransisco.
Purbo, Onno W., 2006, Buku
Pegangan Internet Wireless dan Hotspot, Elexmedia, Jakarta.
Purbo, Onno W., 2003. Teknologi
Wireless Internet dengan Kecepatan Tinggi, Komunitas Wireless
Bocor.Indonesia.
Ranvier, Sylvain, Path Loss
Models, Helsinki University Of Technology.
Setio, E. Dewo, 2003, Bandwidth
dan Throughput, http://www.IlmuKomputer.com.
Sinambela, Joshua M., 2004, Tutorial
Setting up MeshAP Wireless Distribution System. Yogyakarta.
Stig Erik Arnesen dan Kjell Åge
Håland, 2001, Modelling of coverage in WLAN, Master of Engineering in
Yoga,
Adyatama, Perbedaan Mode
Wireless, http://mikrotik.co.id/artikel_lihat.php?id=47, Diakses
pada 13 November 2015 Pukul 14.00
WIB
Profesor H. Aiken. pada tahun lahir 1940-an di Amerika, dari group riset Harvard University